Selasa, 20 Mei 2014

Di Mana Hatimu?

Untuk apa?
Menitikkan air mata, kepada hati yang ku anggap cinta
Sementara ia, hanya janjikan kata-kata.

Apa untungku?
Menyebut namamu hingga kelu,
Sementara kau hanya menyingsingkan bayangku saja.

Bahkan untuk menyentuh hatimu,
Terasa sukar, bersama kepedihan yang mengakar.

Sesulit itu, tuk menjangkau hatimu, Bag berada di langit ketujuh
Sementara rasa ini, hanya mampu bersemi di bumi,
Mati...
Tak ada sudi dari sang langit,

Tuk hujankan cinta bagi hati di bumi ini ...

Bersabarlah Cinta

Perasaan itu
Meluah indah di antara dua hati
Berseberang samudera kerinduan
Yang teramat luas dan seolah tanpa batas

Aku mencoba mencari bayangmu diseberangnya
Tangan lemah mendayung letih,
Perahu sabar kecil denga tertatih.

Di tengah samudera,
Terombang-ambingkan putus asa,
Akibat hantaman badai lara,
Yang jadi halang rintang ke tepian

Namun cintamu menguatkanku, yang semula tinggal sehembus sunyi
Kini lebih kuat dari cabikan badai ini.

 Bersabarlah...
Aku tengah mencoba,
Menjadi sesuatu yang pantas untukmu,
Kelak,
Jika ku mampu menjadi seperti mereka,
Barulah aku pantas menerima,
Secuil rasa bangga,

Dari hatimu, yang tersenyum itu ...

Akankah Kau Cemburu?

Ya allah...
Apakah aku telah membuat-Mu cemburu?
Karena sesungguhnya aku juga mencintai hamba-Mu

Ya Allah...
Apakah Kau akan menyingkirkannya dari hidupku?
Agar aku tak duakan cinta

Ya Allah...
Sungguh aku takut kehilangan
Kehilangan hadir-Mu dari zikirku, kehilangannya yang mengetuk kalbu

Hamba takut... takut... takut....
Engkau cemburu, apa jadinya jika Kau memalingkanku

Kuharap inilah cinta dari-Mu yang mereka kata

Semoga...

Sahabat Saya


Lihatlah ia, wahai langit!
Bunga hatiku yang tak ku harapkan layu
Lihatlah tiap gurat senyumnya!
Meski tak semanis tetes madu lebah ratu
Telah cukup manis tuk hilangkan dahaga rinduku

Lihatlah ia, wahai langit!
Tiap leleh air mati dari sendu tatapnya
Meski tak sederas rintikan yang kau tumpahkan
Telah cukup menyayat di relung jiwa.
Lihatlah ia, wahai langit!
Meski tak setiap nyawa menyukainya

Dialah sahabat saya ...

Sabtu, 17 Mei 2014

Tanah Basah

Mereka semua tengah berkumpul
Keluarga, teman, sahabat, dan kerabat
Hanya untuk bertemu dengan ku
Membelaiku, menciumiku,
Dan memeluk dengan penuh haru
Aku tersenyum...
Mereka memarasku dengan pakaian suci
Menghiasiku dengan aroma bunga wangi
Mereka yang datang bersama karangan indah bunga
Mengapa kelihatan sembab di mata?
Padahal , aku hanya butuh satu
Ketika mereka menghantar diri ini kepelukan bumi ,
Ketika bunga hujani nisan,
Dan tanah basah karena duka,
Doa mereka tetap untukku,

Sebagai tamu dirumah baru.

Rinduku Terusik

Tak saling melihat, bukan berarti tidaklah dekat
Antara kita adalah tabir halus, agar cinta itu tetap tulus
Jangan kau cabik tabir itu!
Walau angin berbisik “sayang... aku rindu...”

Biarkan riduku hanya di batin
Tak ku zahirkan, walau ketakutan akan kehilangan
Air mataku telah cukup untuk menafsirkannya
Rasa cinta dan doa, semoga menjadi penentram jiwa

Malaikat senja tak kan bermanja, hingga langit menjingga
Dan malaikat shubuh tak kan berlabuh, hingga kegelapan runtuh
Jadi, walau sepi yang mengusik rinduku kini
Aku percaya,
Waktu dari Tuhan-lah

Yang ‘kan buat rinduku indah...

Selamanya?

Cukuplah aku dah hatiku
Mencintai Dzat-Mu tanpa ragu
Kau yang memberiku cinta,
Kau pula yang memeliharanya

Wahai Dzat  Yang Pemurah
Kenapa pula aku harus gundah?
Hanya karena tanganku yang lemah
Tak  mampu memeluk bayangnya

Aku selalu bertanya,
Cintakah ia selamanya?
Aku harap takdir,
Tak suratkan cinta harus berakhir           ,
Sepertihalnya Rahmat-Mu Ilahi Robbi

Tak pernah terputus ‘tuk langit bumi ...

Seribu puisi

Seribu puisi
tak kan  mampu menguntai perasaan in dalam hati
semua tinta diseluruh dunia
tak kan cukup tuk tuliskan pujaan
kata-kata cinta
namun satu dearian air mata doa
cukup buat ku melepas jubah gelisah

bahwa cinta masih baik-baik saja

Saat Cinta ...

Semua terasa bahagia
Saat cinta datang menyapa
Semua suara, lirih menegcil
Saat cinta memanggil
Semua rasa berbaur harum
Saat aroma cinta tebarkan senyum
Tiada lagi langkah tertatih
Saat uluran cinta meraih
Musnahlah sudah derai duka

Saat tangis manis menguntai doa

Cinta Yang Mana

Menderai tangis manis, di tengan serpih tasbih
Muhasabah diri, ketika angin tengah bernyanyi
Teringatku akan diri_Mu cinta
Yang sempurnakanku dengan sejuta rasa

Tapi apa laku hati kini?
Hanya menerawang bayang kelabu,
Terbuai indahnya cinta baru,
Ketika cinta-Mu tengah menunggu

Alangkah egoku
Menari bahagia bersama nafsu
Inikah cinta yang pujanggakan manusia?
Ataukah nafsu?
Yang selalu tergugat sebagai penipu

Wahai Dzat Pembara Purnama
Mohon lenterakan jalan hamba
Agar kian lurus jalan kalbu

Ketika mencintai bayang kelabu.

Lafaz cinta

Wahai puisiku,
Ku untai dalam kata berantai
Rangkaian kata berlafad cinta
Wahai puisiku,
Ku titip rasa lewat gurat tinta
Ku tumpang sirat dalam tubuhnu yang tersurat
Wahai puisiku,
Cermin jiwa galau hatiku
Cermin jiwa damai kalbu
Izinkan ku untai intan kata
Lewat pena beku penguntai rasa
Lewat pena pengurai makna

Ku toreh selekang lafad cinta ...